WELCOME....

Ketidaksempurnaan hutan di lereng gunung menjadi pemandangan yang indah karena dilihat dari kejauhan. Ketidaksempurnaan manusia pun menjadi indah kalau kita bersedia menciptakan "jarak", agar jelas perbedaan antara engkau dan aku. Allah pun membuat "jarak" dengan manusia, yakni dengan menganugerahkan kehendak bebas untuk mengasihi, bukan untuk berbuat dosa! Jarak yang dibangun menuntut resiko ditolak

Selasa, 05 Oktober 2010

Sahabat Ketiga

oleh Blasius Full pada 08 Januari 2010 jam 11:38

"Dalam hidup kita harus saling memegang amanah,
berlaku benar dan tidak mengelak tanggung jawab."

Dua orang sahabat bak pinang dibelah dua,
tak terpisahkan!
Mereka berkawan sejak kecil dan saling
menaruh percaya.
Seorang adalah pedagang, dan seorang lain
bendahara kerajaan.
Namun, pergolakan politik membuat kerajaan pecah.
Disintegrasi membuat kedua sahabat itu terpisah
di dua negeri yang berbeda.
Setelah dua tahun lewat, si pedagang ingin
mengunjungi sahabatnya.
Lalu ia pergi ke negeri seberang, tempat
sahabatnya menetap.

Ketika si pedagang tengah berjalan-jalan di tengah
kota, raja segera diberi tahu,
"Raja ada seorang mata-mata lalu-lalang di
negeri kita!"
Tampak sigap, sang raja memerintahkan menangkap si pedagang.
"Hai, kamu mata-mata, apa yang kamu cari di negeriku?" raja mulai mengintrogasi si pedagang.
"Hamba hanya pedagang yang ingin mengunjungi seorang sahabat di negeri ini," jelas si pedagang.
Alasan itu diacuhkan dan kecurigaan sang raja jauh lebih berkuasa.

Dalam persidangan yang serba kilat, hukuman mati dijatuhkan!
Lalu di pedagang sujud menyembah sang raja,
"Perkenankan hamba kembali ke negeri hamba terlebih dahulu.
Hamba harus menyerahkan semua investasi hamba
kepada anak dan istri, jika tidak, mereka akan
terlantar dan hidup dalam kesengsaraan. Setelah itu
hamba akan kembali untuk menjalani hukuman mati!"

"Gila! Apa aku ini raja bodoh? Mana ada tawanan
dilepaskan, dan mau kembali untuk mencari mati?"
sahut sang raja. "Ya mulia, hamba punya seorang sahabat di negeri ini,
dia belahan jiwa saya. Dia pasti mau menjadi jaminan bagi hamba!" usul si pedagang.

Lalu menghadaplah si bendahara kerajaan kepada raja!
"Benarkah terpidana ini karibmu?" tanya raja.
"Benar, paduka. Dan hamba bersedia menjadi jaminan
baginya. Bagi hamba ini sebuah amanah.
Bahagia rasanya melihat sahabat hamba pergi menempuh
risiko untuk mencari hamba, dan kini hamba rela
menawarkan hidup ini untuknya!" si bendahara mencoba
meyakinkan sang raja.
"Ingat! Jika dia tidak kembali dalam waktu tiga puluh
hari, kepalamu yang aku pancung!" tegas sang raja!
Sahabat itu mengangguk setuju.
Saat akhir batas waktu yang disepakati, raja menanti
si pedagang hingga sore hari.

Si pedagang tak kunjung datang.
Segera setelah matahari terbenam raja memerintahkan
tawanan segera dipancung!
Sementara leher si bendahara sudah di bawah eksekusi
pancungan, tiba-tiba seseorang berteriak,
"Raja, raja, hamba datang! Jangan pancung sahabat hamba!"
Si pedagang menarik tubuh sahabatnya, dan merebahkan
dirinya di bawah kapak pancungan!
"Sekarang aku telah siap untuk menjalani hukumanku!"
katanya seraya menatap tajam sahabatnya,
"terima kasih karena engkau mempercayaiku!"

Si bendahara tak ingin bergeser dari pancungan!
"Tidak! Aku sudah siap mati untukmu! Engkau telah
mengamanahkan kepadaku, dan sesungguhnya jika engkau
tak ke negeri ini mencariku, tak akan ada masalah ini, jadi...!"
Perdebatan di bawah eksekusi pancungan itu
berlangsung sengit, dan membuat raja amat terperangah.

Ia belum pernah melihat persahabatan seperti ini.
"Diam, diamlah! Kalian aku bebaskan! Kalian tidak
perlu mati. Persahabatan kalian yang mendalam itu
adalah permata yang mahal," seru raja,
"dan aku mohon kepada kalian, izinkan aku menjadi
sahabat ketiga kalian..."
Raja menjadi sahabat ketiga dan mereka belajar
sebuah hikmat, bahwa dalam hidup kita harus saling
memegang amanah, berlaku benar dan tidak mengelak
tanggung jawab, termasuk dalam mengisi persahabatan.

sent by haryono99@gmail.com

Tape Ketan Hitam Panurata

oleh Blasius Full pada 09 Januari 2010 jam 10:00

Sabtu pagi ini, Panurata naik sepeda karena mau menengok kantor CU "Cikal Bakal" yang berjarak 300 meter dari rumahnya. Dari kejauhan, Jerawati, yang rumahnya cuma 100 meter dari Panurata, kelihatan lari lari kecil memanggil manggil Panurata, "Akaaaaaang Panuuuu!" Panurata kaget, lalu berhenti dan menengok, siapa gerangan yang memanggil, sepertinya suara Jerawati! "Ah ternyata benar juga, orang satu itu, musuh bebuyatanku, tapi juga ya...teman banget!" batin Panurata. Katanya, "Iya...Jeng Trimbil, Kumaha damang, aduuh...sinarieun?" Dengan logat Sunda yang kental, Jerawati menyahut, "Idiiih Akang, pangestu Kang." Panurata mengajak Jerawati sekalian mampir Kantor CU-nya. "Ayo mampir ke kantor saja, kita ngobrol di sana ya!" Mereka berdua lalu berjalan sambil menuntun sepedanya ke kantor CU. 

Dalam perjalanan, Jerawati mengungkapkan isi hatinya, "Akang, aku kangen nih, pingin ngobrol ama Akang!" Jawab Panurata, "Haaah, kangen? Nggak salah denger nih?" Sahut Jerawati, "Iya...kangen ama judes dan galakmu!" Panurata balas, "Yee, emang penting apa kangen ama aku?" Jerawati membalas tak mau kalah, "Lagian, kalau orang kangen itu harus karena kepentingan apa?" Sahut Panurata, "Iyee, kan sudah ada Akang Trimbil, ngapain juga kangen ama aku?" Jawab Jerawati, "Lho, aku kangen kan cuma ama judes & galakmu, nggak seluruhnya, cuma sebagian tahu..!! Jadi, nggak usah GEER, deh...emang dirimu gantheng apa? Ngaca tuh, ngaca dulu.." Bantah Panurata, "Yeee, daripada Trimbil, ganthengan aku, dong!" Sahut Jerawati, "Iya aku tahu, dirimu mah gantheng pisan kalau di tengah kebun binatang dan lagi ngobrol ama monyet-monyet tuh! Ha ha ha ha!!" Muka Panurata langsung merah padam, "Sialan, loe!!" Panurata lalu mengajak Jerawati masuk, "Iya deh, aku kalah, tapi masih mau kan duduk-duduk di kantor CU?" Sahut Jerawati, "Iya, mau aja, no problem..!"

Panurata & Jerawati bincang-bincang di ruang tamu CU sambil ngobrol "ngalor ngidul". "Ayo dicicipi, ini tape ketan hitam, buatan sendiri Neng!" Jerawati terbengong, "Haah buatanmu sendiri? Nggak salah nih, sejak kapan dirmu bisa buat tape ketan?" Sahut Panu, "Yee, sudah lama, cuma aku nggak pernah bilang ama dirimu! Aku buat tape ketan ini sambil menambah pemasukan keluargaku. Jadi, kalau bilang denganmu waaah bisa bisa gratisan terus." Jerawati tertawa, "Enak aja, emang aku mau minta tape ketanmu tiap hari, apa? Aku tuh punya uang, tahuuu!!" Panurata menyahut, "Iya iya...tahu Neng, aduuh...tersungging ya he he he!!" Balas Jerawati, "Nggak tersungging, cuma gondhok tauu!!" Panurata mencoba menenangkan, "Iya deh minta maaf, kalau jadi gondhok...!" Sahut Jerawati,"Yeee..tumben minta maaf...!" Panurata menyahut, "Iyaa, terima kasih sudah dimaafkan!"

Panurata mencoba mengalihkan pembicaraan, "Omong-omong hidup kita ini mestinya seperti tape ketan lho!!" Jerawati terbengong, "Hah, seperti tape ketan? Nggak salah tuh?" Panurata lalu menjelaskan, "Begini, Jeng! Tape ketan itu prosesnya seperti biasa, seperti membuat tape dari ketela pohon. Setelah beras ketan itu kurang lebih 7 jam direndam, lalu dikukus, sampai "lem" dari beras itu keluar, kemudian beras itu dicuci sampai hilang "daya rekatnya" Setelah dikukus sampai matang, kemudian ketan itu didinginkan. Setelah benar benar dingin, barulah ketan itu diberi ragi secara merata, dan diperam sampai 3 hari. Setelah 3 hari, ketan itu akan mengeluarkan air dan terasa manis semuanya!" Jerawati mengangguk-angguk, "Oh begitu? Nah kenapa kenapa mesti menunggu ketan itu dingin baru diberi ragi?" Jawab Panurata, "Itulah kuncinya buat tape, kalau ketan itu masih terasa hangat, ragi itu tidak akan bisa membusukkan ketan dengan sempurna, karena masih ada panas di ketan itu. Ketan yang masih hangat itu cenderung "menolak" untuk diubah oleh ragi itu." Jerawati lalu mulai makin mengerti, "Yap...begitu juga manusia ya, kalau kepala tidak dingin, bagaimana bisa mendengarkan masukan orang lain ya?" Panurata mengangguk, "Naaaaah...betuuul...Jeng..Wah tambah bijaksana sekarang!" Jerawati tersipu sipu, "Aduuh..makasih pujianmu ya..kayaknya baru kali ini dirimu memujiku!" Panurata nyengir, "Iye, kupuji dirimu, karena kan sudah aman he he he...kalau dulu aku memujimu, waaah bisa payah!" Balas Jerawati,"Oh, maksudmu, kalau aku dipuji dirimu, aku terus GEER gitu dan mau menikah denganmu? Yeeee...tak usah ya...nggak usah ke GEER-an...! Sahut Panurata, "Yeee, aku mah nggak GEER tapi ngarep...!!" Jerawati pun tertawa, "Dasaarrr...daripada sendu, kunyanyikan lagu aja deh.."Terlambat sudah..kau datang padaku...!!" Panurata mendengar lagu itu tambah nyengir, "Pinter banget, sih ngeledhek orang?" Balas Jerawati, "Siapa dulu yang memulai?" Panurata cuma senyum kecut, "Maksudmu, kau yang memulai, kau yang mengakhiri??" Jerawati langsung senyum, "Waah kemajuan pinter nyanyi dangdut juga..." Tanpa basa basi, akhirnya Jerawati pamit pulang, "Kang Panu, thanks, ya..sudah ngobrol banyak, lumayan jadi seger nih...Aku pulang dulu ya..sorry mengganggu pekerjaanmu!"

Jerawat pulang dengan rasa segar kembali, dan Panurata pun rasanya makin penuh harapan menyelesaikan pekerjaan di akhir pekan ini.

Haruskah Hati Menciptakan Jarak ??

oleh Blasius Full pada 09 Januari 2010 jam 23:48

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya,
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah,
ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat
tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia
telah kehilangan kesabaran, karena itu ia
lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya
justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak?
Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang
dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak
satu pun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang
berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua
hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik
mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak
yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya,
semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka
menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang
ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi.
Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang
terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka
berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu
halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa
mendengarkan nya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun
berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka
tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak
perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin
mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang
dilanda kemarahan, jangan lah hatimu
menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak
mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di
antara kamu. Mungkin di saat seperti itu,
tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara
yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

Foto di atas meja

oleh Blasius Full pada 10 Januari 2010 jam 3:28

Foto di atas meja

Seorang artis tengah dirundung malang.
Lantaran mencandu narkoba, ia terserang penyakit
maut HIV. Kini ia tergolek sekarat di rumah.
Seorang teman datang mencoba menghibur dan
meneguhkan imannya. Namun dosa-dosa yang telah
diperbuat membutakan mata si artis. Ia putus asa.

"Aku berdosa," akunya memelas, "Aku telah
menghancurkan hidupku dan kehidupan banyak orang
di sekelilingku. Kini aku akan tersiksa di neraka. Tak ada
lagi yang bisa kuperbuat."

Dari sisi tempat tidurnya, sang teman melihat sebuah
potret gadis kecil yang cantik terpigura di atas meja.
"Ini foto siapa?" katanya.

Mendengar pertanyaan itu sang artis antusias,
semangat hidupnya tergerak kembali, "Oh, itu foto putriku.
Dialah mutiara hidupku, ia satu-satunya yang indah
dalam hidupku."

"Apakah kamu akan menolongnya bila ia
mendapat kesulitan, atau melakukan kesalahan?
Maukah kamu memaafkan dia? Apakah kamu
masih mencintainya?"

"Tentu saja." Jawab sang artis antusias. "Aku akan
lakukan apapun demi dia. Mengapa kau
lontarkan pertanyaan seperti ini?"

"Saya ingin kau tahu," jawab sang teman,
"Bahwa Tuhan juga memiliki foto dirimu di atas meja-Nya."

Wajah artis itu terkesiap. Sudah terlalu lama ia tidak
mendengar kata Tuhan, apalagi mengucapkannya.
Sastrawan Rusia, Leo Tolstoy, dalam karyanya
Last Diaries pernah menulis, kamu selalu saja
berpikir tentang orang lain, padahal Tuhan selalu
memikirkan kamu. Apalagi sesungguhnya, Tuhan itu
sering mengunjungi kita, namun kita kerap kali tidak ada
di rumah.

sent by haryono@gmail.com

Doa Panurata & Judesanti

oleh Blasius Full pada 10 Januari 2010 jam 17:41

Suatu saat, di malam minggu, Tuhan mendengarkan doa permohonan Panurata, dan Judesanti, berdoa kepada Tuhan, agar mereka diberi calon suami dan calon isteri untuk mereka masing masing. Mereka berdoa dari rumah masing-masing setelah malam minggu mereka sempat jalan-jalan bersama di sekitar Taman "Firdaus".

Panurata, seorang pemuda yang "gantheng", dan "kasep pisan", yang baru saja lulus sarjana sastra, memanjatkan doa permohoan begini.

"Tuhan, aku bersyukur engkau telah memberi wajah yang gantheng, apalagi kalau dibandingkan dengan teman temanku di kampus dulu. Karena itu, setelah aku jadi sarjana, aku ingin menikah dengan seorang gadis yang cantik. Aku ingin dia memiliki wajah dan tubuh yang tinggi semampai sekitar 170 cm. Aku ingin sekali isteriku berwajahkan seperti Stefania Vernandez dari Venezuela, "Miss World 2009". Calon isteriku nanti mesti pinter memasak, pinter merawat dan mendidik anak, serta pinter memasak. Berikanlah aku seorang istri yang tidak judes, galak dan mudah komentar, atau cerewet. Namun, berilah aku istri, yang pendiam, pengertian n jangan sampai dia mudah curiga, namun mudah percaya kepadaku! Berilah aku istri yang setia, Tuhan, tidak mudah untuk curhat kepada orang lain, melainkan istri yang tahan uji, sabar, dan mudah mengampuni kesalahan suaminya. 

Tuhan, aku percaya, engkau mau mendengarkan doaku dan mengabulkan doaku ini! Amin

Di malam yang sama, Tuhan pun mendengarkan permohonan Judesanti, seorang wanita yang baru saja lulus sarjana akuntansi, yang ingin menikah di tahun depan. Beginilah dia berdoa!

"Tuhan, aku bahagia sekali, karena engkau telah memberikan aku wajah yang cantik, dan tubuh yang sungguh-sungguh menarik banyak pemuda! Namun, di tahun depan, aku ingin menikah dengan seorang pria yang "macho" dan maskulin. Aku ingin, dia adalah pria yang gagah, sehat dan tidak mudah sakit sakitan. Kuberharap, calon suamiku itu orang yang cerdas, dan pinter untuk mengatasi problem rumah tangga. Namun dia juga orang yang jujur, bisa dipercaya, sederhana hidupnya! Aku ingin dia orang yang tidak mudah mengeluh dan kekanak-kanakan, serta tidak suka menuntut pada isterinya, di saat aku jadi wanita yang suka berbelanja di shopping. Aku ingin tetap jadi wanita yang bisa shopping di kala aku stress, meskipun menghabiskan uang banyak, namun itulah obat satu-satunya untuk mengatasi kekuranganku. Jadi kumohon dengan sangat, carikanlah aku seorang pengusaha besar, yang tidak akan kehabisan uang, di saat aku ini membutuhkan uang banyak sebagai obat mujarab kelelahanku setelah mengurus anak setiap hari. Aku mohon calon suamiku itu sungguh sungguh orang yang mau mengerti meski aku patut disalahkan. 

Tuhan aku percaya engkau mau mengabulkan doaku yang tidak sempurna ini!

Setelah mendengar doa mereka, Tuhan pun menjawab doa pria dan wanita itu, 

"Anak-anak-Ku, terimakasih kalian semua jujur pada-Ku. Kalian mau mengatakan keinginanmu yang begitu indah. Siapakah pria dan wanita yang tidak akan bahagia mendapatkan suami dan isteri yang cocok dengan selera, keinginan dan harapannya? Namun sayang sekali, Aku, Tuhanmu, tidak punya seorang wanita seperti yang diminta Panurata. Aku juga tidak sanggup memberikan calon suami yang diminta Judesanti. Aku sebenarnya prihatin kenapa kalian semua meminta yang sangat "sempurna menurut dirimu", padahal kalian semua tidak sempurna. Tetapi kalian meminta yang sempurna. Aku tidak memiliki manusia yang sempurna. Justeru karena pria dan wanita tidak ada yang sempurna, kalian dipanggil untuk saling menyempurnakan dalam perkawinan. Aku akan merestui perkawinan kalian, namun aku tidak pernah akan memberikan calon suami dan calon isteri yang sempurna. Aku akan memberimu pilihan untuk menjadikan salah satu dari antara pria dan wanita yang engkau kenal, engkau tentukan sendiri, menjadi calon pasangan hidupmu. Siapapun pilihanmu, hiduplah untuk saling menyempurnakan, agar makin sempurna seperti Bapa sempurna di surga."

Esok paginya, Judesanti ketemu Panurata di kantornya, CU "Cikal Bakal". Judesanti menatap Panurata dan menyalami dengan tangan yang gemetar dan dingin. Begitulah juga dengan Panurata, ia menyapa dengan terbata-bata, "Neng Judes, apa semalam kita ketemu? Kok Tuhan menyebut namamu dalam doaku?" Sahut Judesanti, "Akang, aku juga merasakan, semalam kita ketemu! Tuhan juga menyebut namamu! Tapi di mana ya kita bertemu? Sambil mata memandang ke depan agak kosong pandangannya, Panurata bercerita, "Semalam aku berdoa meminta jodoh, seorang wanita yang sangat sempurna menurutku, tapi Tuhan tidak mau mengabulkan!" Judesanti pun dengan loyo bercerita, "Sama, Akang! Aku berdoa minta jodoh, tapi Tuhan mengatakan aku ini tidak adil, aku ini orang tidak sempurna kok malah mencari yang sempurna!" Panurata lalu menambahkan, "Jadi, kita doa dengan intensi yang sama ya...?" Jawab Judesanti, "Ternyata intensi doa kita itu sama, Kang". Lanjut Panurata, "Jadi, gimana dong baiknya?" Jawab Judesanti, "Iya nggak gimana gimana Akang! Kita lihat saja, nanti. Terima kasih ya..sudah sharing pagi ini untukku!" Jawab Panurata, "Iyaa, tapi kalau bisa....!" Judesanti memotong, "Kalau bisa apa?" Sahut Panurata, "Nggak jadi ah....! Thanks ya..." Jawab Judesanti, "Iya, sama sama, aku pamit ya..!" 

Judesanti lalu pulang ke rumahnya setelah membayar iuran wajib dan sukarela di CU Cikal Bakal.

Tujuh cara mematikan ide team kerja, Tujuh cara menyuburkan ide team kerjamu!

oleh Blasius Full pada 11 Januari 2010 jam 0:07

Dear all, 

Salah satu kekhasan pemimpin yang baik, justru harus mengenal, kapan kita bisa mematikan ide kreatif seorang teman atau team kerjamu. Dengan mengenal caranya, engkau akan menemukan cara baru untuk menyuburkan ide kreatif dari anggota team kerjamu! Caranya mudah untuk mematikan ide anggota team kerjamu:

1. Janganlah menatap matanya, tetapi lihatlah barang di sekitarnya, atau tunduk saja saat dia mengajak engkau bicara!

2. Katakanlah padanya, "Siapa yang tanya, penting apa idemu buatku?" 

3. Tempatkanlah ide temanmu itu dengan cara "brainstorming": Emang idemu itu satu-satunya yang benar apa? Masih banyak ide bagus lainnya daripada idemu sendiri! Misalnya temanmu sedang menampilkan ide kreatifnya untuk menghias dekorasi manten. Dia membuat dekorasi manten yang bernuansa pegunungan lengkap dengan air terjunnya. Kalau engkau mau mematikan idenya, katakan saja, "Emang kamu sendiri apa yang punya ide seperti itu, aku pun punya, tapi aku nggak suka pamer seperti dirimu!"

4. Ber-SMS-lah terus selama dia berbicara, dan cukup tanggapi dengan kata, "Oh iya, baguslah! Ehmm Begitu...?" 

5. Setiap kali dia berbicara tentang idenya, Anda tidak perlu tanya tentang idenya yang bagus dan kreatif, tapi ajukanlah terus ceritamu sendiri untuk menandingi idenya! Misalnya temanmu sedang punya ide untuk membuat gerakan penghijauan di tanah bukit yang tandus. Temanmu mengajukan usul untuk tanam pohon Jambu Mete. Kamu tidak perlu tanya, kenapa mesti Jambu Mete, tapi langsung saja katakan idemu yang baru. Aku yakin ideku lebih baik, tidak perlu tanam jambu mete, tapi tanamlah pohon beringin, pasti tumbuh subur, dan air akan terserap banyak. Emang pohon jambu mete bisa menjamin tanah jadi subur, apa?

6. Cobalah Anda selalu mencari kata-kata yang dia lontarkan, dan alihkanlah kata kata kunci menjadi titik tolak untuk tertawa. Misalnya, temanmu bicara, "Jadilah sumur yang dicari ember, jangan jadi ember yang mencari sumur terus!" Alihkanlah ide temanmu itu dengan membelokkan kata "ember". "Ya jelas saja, jangan jadi embeeeer...!! Itu sih saya sudah tahu, nggak usah sok menasihati deh...!!" 

7. Tertawalah Anda saat Anda menanggapi idenya. Dia mengemukakan ide "Fund Raising". Mudah saja, untuk meningkatkan uang saku mahasiswa, "Anda tidak perlu cari uang, tapi cukuplah mengurangi jatah rokok, dari sebungkus sehari, jadikanlah sebungkus untuk 12 hari! Uang yang biasa untuk beli rokok sebungkus per hari, masukkanlah ke celengan!" Tanggapilah usul itu dengan tertawa, "Ha ha ha ha, biasalah orang yang tidak pernah ngerokok itu tahunya cuma teori, emang enak apa orang nggak merokok, sakit dan pusing Mas...jadi nggak usah deh...fund raising dengan cara matiraga begituan...kuno...!!

Sekarang, setelah tahu 7 cara yang mudah untuk mematikan ide kreatif anggota team kerjamu, cobalah 7 langkah itu jadikan langkah yang positif:

1. Tataplah wajah dan pandangannya saat dia berbicara serius untuk menceritakan gagasannya yang kreatif! Janganlah mencoba untuk memindahkan pandanganmu ke tempat lain.

2. Katakan kepadanya, "Apapun pendapatmu, pasti akan memperkaya team kerja kita, ayo ceritakan saja, siapa tahu berguna untuk kinerja kita!"

3. Janganlah membuat brainstorming yang menempatkan idenya itu seolah-olah ide yang terjelek, melainkan buatlah brainstorming yang menempatkan idenya itu berkaitan dengan ide ide orang terkenal, ide ide orang pinter lainnya sehingga ia merasa diteguhkan, idenya itu sungguh memang bisa dipertanggungjawabkan.

4. Simpanlah HP-mu, dan tidak perlu angkat telp atau ber SMS ria saat diajak bicara. Tunjukkanlah bahwa orang itu dan idenya sangat penting untuk kinerja teammu.

5. Berusahalah untuk memperdalam ide kreatif yang sudah dilontarkan anggota team kerja, dan tidak perlu memperdebatkan idenya itu dengan idemu sendiri, melainkan terulah bertanya, sambil mencari referensi yang bagus, sehingga ia merasa idenya terdukung.

6. Janganlah membelokkan kata kata kunci sebagai bahan untuk "guyonan" atau "bercanda", karena engkau akan dinilai sebagai pribadi yang suka meremehkan. Namun cobalah merumuskan kata kata kunci itu dan ulangilah di depan dia, agar dia merasakan gagasannya itu sangat penting.

7. Janganlah tertawa, bila dia sedang bicara, melainkan dengarkanlah dengan baik gagasannya yang bagus itu, lalu carilah nilainya yang positif, jangan mencari sisi negatifnya dulu. Semua gagasan akan punya kelebihan dan kelemahan, tapi carilah positifnya dulu!

Semoga ada banyak pemimpin yang tahu menghargai anggota team kerjanya, sehingga ada banyak orang tertantang untuk tumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri!

Warm regards!